NEWS

Tuesday, 2 February 2016

“MAMA, MAUKA PULANG, MAIN KAPAL - KAPAL”


Bagi seorang anak 5 tahun yang harus menjalani operasi dari penyakit langka yang menderanya, tentu bukanlah sesuatu yang diidamkan. Yah, Iksan..seorang bocah yang menderita penyakit langka gangguan usus dan kelainan pada anus yang agak susah penyebutannya. Atresiaani Fistel Rectoperineal dan Illeus Obstruktif.

Operasi menjadi satu-satunya jalan dan menjadi sebuah keharusan dan harus dijalankan. Seorang anak dengan tinggi tak lebih dari 100 cm, tubuh kurus, perut membuncit, dan tulang rusuk yang transparan, pastilah tangis akan mengurai air matanya.

Iksan harusnya sedang berlari di pematang sawah Rammang-rammang sambil menunjuki gugusan karst terbaik dunia di kampungnya. Dia harusnya berteriak menantang alam, berenang di anak sungai yang jenih dan mengolah tulang daun pisang mejadi senjata-senjataan sembari perang-perangan dengan teman sebayanya.

Tapi Iksan kecil, harus terbaring di ruang operasi, dengan denting suara gunting dan alat operasi lainnya bermain dijemari tim operasi pada senin paling awal bulan februari.  5 jam tak sadarkan diri adalah sebuah trauma waktu yang akan abadi dalam kehidupan seorang Iksan.

Setelah operasi, sang Ibu seperti malaikat merangkul anaknya, menciuminya dan menumpahkan kasih sayangnya lebih dari apa yang dia miliki. Rasa cintanya mengulum senyum meluapkan sinar bahagia, hingga ia begitu penuh kasih mendekap anaknya, yang sudah tiga setengah tahun menderita penyempitan pembuangan.

Dalam dekapan itu, Iksan dengan suara lunglai, menyambut kasih sayang Sang Ibu dalam dekapan penuh kehangatan, dalam dekapan itu Iksan berbisik ke ibunya, “ Mama, Mauka Pulang, Mauka Main Kapal-Kapal”.

Sontak permintaan sang Anak membuat hening ruang rumah sakit terbesar di Indonesia Timur itu, seakan angin juga berhenti berhembus mendengar keinginan sederhana anak kecil itu.

Wajah pembesuk yang berseri karena keberhasilan operasi, perlahan datar dan pipi mereka sembab oleh air mata yang tak sanggup ditahannya, seiring dekapan Iksan yang semakin erat kepada ibunya, yang sudah tanpa kata tapi mengirimkan pesan jelas akan kerinduan dunia anaknya.

Di kepala Iksan, adalah dunia gembira tanpa beban, berlari menembus angin, membelah dunia, berteriak sesuka hati, dan berjingkrak di tepi Sungai Rammang Rammang sembari melayarkan kapal kapalnya menjelajahi Sungai Indah dengan pemandangan hutan enau yang menyempurnakan pelancong Rammang Rammang.

Mungkin Iksan bercita cita menjadi nahkoda melayarkan kapalnya ke laut Nusantara yang penuh pesona juga penuh tantangan, ia mungkin ingin tumbuh menjadi anak yang tak takut dengan ombak dan menjadi pekerja keras untuk melayarkan bahtera hidupnya mengarungi lautan kehidupannya yang penuh dinamika.

Wajah Iksan dalam dekapan ibunya, seakan ingin berkata ke semua pembesuk untuk mendoakannya dan memberinya bantuan untuk mengangkat semangatnya yang menjadi sempit sesempit lubang anusnya.

Tapi, bagi Iksan lubang anus adalah cobaan Sang Kuasa, harus diserahkan pada kuasa-Nya jua. Jika Sang Kuasa menginginkannya sembuh dan tumbuh besar menjadi nahkoda, maka sembuhlah dia, tapi jika Sang Kuasa mengakhiri harapannya, maka mungkin saja disitu akan tersimpan pesan sangat kuat, bahwa hidup bukanlah hak kita menentukan akhirnya, tapi berusaha menjaga hidup orang lain adalah sebuah keharusan. Menjaga iksan-iksan lainnya disekitar kita.

Ibunya semakin erat mendekapnya, airmatanya menggetarkan hatinya, seakan ia ingin membawa lari anaknya itu dan membawanya menuju tepi sungai Rammang Rammang sembari menyaksikan anaknya berbahagia melayarkan kapal-kapalnya, membayangkan masa depan anaknya berlayar di laut lepas menaklukkan ombak, dan tak berharap anaknya berlayar ke langit meninggalkan tepi sungai dan kapal-kapalnya. (bsfm inspiration dept)

Maros, 2 februari 2016, Sebuah catatan kecil dari Iksan untuk kita
Penulis : Lory Hendradjaya, Editor : Ady Maros Enterprise
 
Copyright © 2014 107,3 Maros FM, Spirit Butta Salewangang. Designed by Radio Butta Salewangang (BS FM).