NEWS

Friday, 1 January 2016

SOSOK DENGGANG, PENDOBRAK KAKUNYA BIROKRASI KESEHATAN DI MAROS

Sosok Denggang, seorang tua berusia 80 Tahun yang kesehariannya lebih banyak diisi dengan menghadiri sholat Jamaah di Masjid Al Mujahidin, desa Labuaja Kecamatan Cenrana Maros. 

Imam Dzulkifli, cucu Denggang menuliskan dimedsos, Sang kakek salat dengan gerakan agak lain dan dia selalu ada di sisi kanan, paling kanan. Sebuah peristiwa puluhan tahun lalu membuat kaki kanannya tak berfungsi baik. tak bisa ditekuk. maka cara rukuk, sujud, hingga iktidalnya menjadi berbeda. Saat berjalan pun denggang tak bisa buru-buru. dia mesti menyeret dirinya. tetapi jangan halangi bila azan sudah mengudara. Senyeri apapun ototnya, dia akan tetap ke masjid. 

Sekali waktu dia telat, tempat favoritnya sudah terisi. "maaf, boleh saya di situ. kalau saya di tengah, akan banyak yang terganggu." orang itu mengangguk dan setuju, tetapi terlihat mengernyitkan kening. Meski kemudian tampak menjadi sangat paham ketika melihat gerakan denggang. benar-benar harus di kanan. 

beberapa hari ini denggang tak ke masjid. perutnya tak nyaman. tenggorokannya tidak bisa menerima nasi dan lauk apapun. Anak-anaknya siaga dan yakin beberapa botol ringer laktat bisa membuat badannya lebih bugar.

Rabu pagi (30/12/2015), Denggang dibawa ke Puskesmas Cenrana. sempat meminta dibelikan es buah, namun dia tumbang. Denggang betul-betul tak akan ke masjid lagi. 

ilustrasi

Kini jasad Denggang sudah menyatu dengan tanah dan kembali ke hadirat Sang Maha Pencipta, namun pelajaran yang ditinggalkan sesaat setelah dirinya dipanggil menghadap Ilahi, ternyata meninggalkan fenomena luar biasa.

Jenazahnya di Puskesmas Cenrana, tempat ia menghembuskan nafas terakhirnya diangkut mobil anaknya sendiri yang kesehariannya berjualan ikan di pasar. Awalnya pihak keluarga Denggang telah meminta bantuan Mobil Ambulance yang ada di Puskesmas tersebut, namun petugas puskesmas, bu Selviana menjelaskan Ambulance tersebut tidak diperuntukkan untuk mengangkut jenazah, hanya untuk merujuk orang sakit sesuai standar Operating Procedure (SOP). 

Pihak keluarganya pun menerima jawaban tersebut dan akhirnya jenazah Denggang pun diantarkan pulang menggunakan mobil open kap anaknya, boby.

Keponakan Denggang, Muhammad Rusli berinisiatif meng-upload foto saat Jenazah Sang Paman diangkat keatas mobil bersama dua foto lainnya sembari menuliskan keresahannya yang ditujukan kepada Presiden Jokowi, atas sikap kaku pejabat di negeri ini.

Pukul 08.30 wita, awal dari semuanya. Kami di Radio BSFM Maros yang mendapati informasi itu sekitar pukul 09.00 sudah menduga hal ini akan mengundang respon dan empati berbagai pihak. 

"Tabe sekaligus saya dan teman2 di Bsfm menyatakan Turut Berduka..Insya Allah dari pengalaman ini setidaknya harus ada yang berubah minimal kebijakan SOP penggunaan Ambulance jangan sampai ada kejadian seperti ini lagi di Maros" begitulah kira-kira bunyi pesan messenger yang kami kirimkan ke Sang Ponakan Denggang, Muhammad Rusli.

Ternyata dari penjelasan Rusli dalam rapat dengar pendapat di DPRD Maros, kamis kemarin, (31/12/2015) mengatakan kejadian ini sebenarnya sudah terulang dan dirinya berharap kejadian ini cukup Denggang yang terakhir.

"pernah seorang warga lebbo tengngae bernama Sulaemana, korban lakalantas yang cuma diangkut dengan motor gandengan pengangkut galon air. Kemudian ada juga warga labuaja, bernama erwin, korban lakalantas juga. terpaksa diangkut menggunakan mobil box atau mobil kanvas. Kejadian ini sangat miris karena tidak satupun mobil termasuk ambulance di puskesmas yang ingin mengangkut, sehingga terpaksa keluarga erwin berbohong kepada supir mobil box. Jenazahnya pun didudukkan seperti orang sakit, padahal sudah meninggal." ungkap Rusli sedih sambil mempertanyakan nurani hadirin.

Demonstrasi yang dilakukan HPPMI Maros untuk membantu Denggang mendobrak kakunya birokrasi di Maros (31/12/2015) (dok. bsfm/indraGuhtiP)

Yah, semua berawal dari sebuah jasad renta seorang Denggang. Dan kini akhirnya semua orang menantikan perubahan sistem birokrasi terkait SOP ini. Semua berharap Jenazah dari orang-orang tua mereka akan diperlakukan layaknya Manusia. Anak, ponakan dan cucu Denggang berharap, mari bicara layaknya keturunan Adam. jika perangai sekadar ter-sistem, tentu itu robot, bukan manusia. (bsfm news department)


 
Copyright © 2014 107,3 Maros FM, Spirit Butta Salewangang. Designed by Radio Butta Salewangang (BS FM).