NEWS

Friday, 1 January 2016

DPRD MAROS GELAR RAPAT DENGAR PENDAPAT KLARIFIKASI KASUS AMBULANCE CENRANA

Anggota DPRD Maros dari Komisi III menggelar Rapat Dengar Pendapat (RDP) kamis kemarin (31/12/2015) di ruang rapat DPRD Maros, terkait masalah Mobil Ambulance di Puskesmas Cenrana Maros yang heboh di medsos dan mengundang empati masyarakat secara Nasional.

Baca : DITOLAK PINJAM AMBULANCE, JENAZAH DI DESA LABUAJA MAROS DIANTAR MOBIL PENGANGKUT IKAN

RDP yang dipimpin Haeriah Rahman dari Komisi III diikuti beberapa Anggota Dewan dengan menghadirkan Kadis Kesehatan Maros, dr. Firman Jaya, Kepala Puskesmas Cenrana, Erniwati SKM, Muhammad Rusli, Ketua Apdesi Abd. Azis, Kepala Desa Labuaja Kecamatan Cenrana Nurbaeti Lanti, serta beberapa Mahasiswa dari HPPMI Maros dan awak media.

Haeriah Rahman mengatakan dalam menanggapi kasus ambulance ini, hati boleh panas namun kepala harus tetap dingin dan berusaha mencari solusi terbaik.

Suasana RDP di ruang rapat DPRD Maros membahas Kasus Ambulance Cenrana (31/12/2015) (dok. bsfm/GuhTip)

Muhammad Rusli yang mendapat kesempatan paling pertama mengutarakan penjelasannya menjelaskan awalnya secara tidak sengaja menulis status di facebook selaku keluarga jenazah, dan tidak pernah menyangka akan menjadi trending topik di medsos. Ia mengaku tidak memiliki tujuan lain selain tujuan baik, tidak lain agar kejadian jenazah yang tidak diakomodasi mobil ambulance di puskesmas, tidak lagi terulang di Maros. Menurutnya SOP (Standard Operating Procedure) gugur dengan sendirinya ketika nurani berbicara.

Kepala Dinas Kesehatan Maros, dr Firman Jaya sebelum memulai penjelasannya dalam rapat dengar pendapat mengucapkan mohon maaf secara pribadi dan atas nama institusinya. Dirinya melihat permasalahan ini memang memiliki dua sisi terkait aturan dan hati nurani.

Firman menilai, kasus tersebut terjadi karena adanya miskomunikasi antara pihak keluarga dan pihak puskesmas. Saat Staff Puskesmas menjelaskan kepada keluarga jenazah terkait aturan SOP penggunaan Ambulance Puskesmas yang tidak diperuntukkan untuk jenazah, maka pihak keluarga langsung menerima dan menggunakan mobil open kap milik anak dari jenazah bernama boby.

Saat kejadian tersebut, kepala Puskesmas juga sedang tidak berada dilokasi sehingga membuat pihak staff takut melanggar SOP yang selama ini mereka ikuti.

Terkait penjelasan ini, beberapa Anggota dewan yang ikut memberikan pendapatnya senada agar mobil ambulance dibuatkan regulasi dari Dinas Kesehatan Maros agar untuk sementara dikembalikan fungsinya untuk bisa dipergunakan mengangkut jenazah sambil menunggu pembahasan anggaran perubahan di bulan juli 2016 mendatang.

Wakil ketua Komisi III, Hermanto mengatakan komisinya yang 5 orang anggotanya berada di banggar, siap memperjuangkan penganggaran untuk pengadaan Mobil Jenazah di tiap kecamatan agar kasus ini tidak pernah lagi terulang. (bsfm news department)
 
Copyright © 2014 107,3 Maros FM, Spirit Butta Salewangang. Designed by Radio Butta Salewangang (BS FM).