NEWS

Saturday, 23 January 2016

ASAL USUL GAFATAR DAN KIPRAHNYA DI MAROS

Akhir-akhir ini di Kabupaten Maros, sedang ramai dibicarakan tentang GAFATAR. Gerakan organisasi ini disangkutpautkan dengan hilangnya beberapa warga Maros dalam rentang waktu November 2015 hingga Desember 2015. Seperti apa sebenarnya organisasi ini?

GAFATAR bersama Relawan PMI saat audience di Markas PMI Maros (atas), Pengurus PMI Maros saat melaksanakan Aksi Sosial Donor Darah 2012 (bawah) (dok. bsfm/PMIMaros)

Gerakan Fajar Nusantara disingkat GAFATAR merupakan organisasi yang mengklaim dirinya bergerak di bidang sosial dan budaya. Deklarasi Gafatar dilaksanakan pada Sabtu 21 Januari 2012 di gedung JIEXPO Kemayoran, Jakarta.

Gerakan ini memiliki wadah dalam situs Gafatar.org. Namun website Gafatar ini sudah tidak aktif. Padahal situs ini terdaftar sejak 2011 dan masih berlaku hingga Oktober 2016. Visi, misi, tujuan dan program kerja organisasi kemasyarakatan ini sama sekali tak menyebutkan nama satu agama.

Dalam dasar pemikiran Gafatar dituliskan bahwa bangsa Indonesia disebut belum merdeka seutuhnya dari sistem penjajahan neokolonialis dan neoimperialis.

"Kenyataan ini membuat kami menjadi terpicu untuk berbuat. Tak bisa duduk diam tanpa melakukan apa-apa untuk kemajuan dan kejayaan bangsa."

Beberapa kegiatan Gafatar seperti donor darah sampai napak tilas memperingati hari Pahlawan 2012. Namun, Gafatar mendapat penolakan warga karena dianggap aliran keagamaan sesat.

Ketua Umum Gafatar, Mahful M. Manurung dalam pidato pembukaan Rakernas III di Gedung Balai Sudirman, Kamis (26/2/2015) yang kami kutip dari Media menyatakan organisasi ini tak akan berevolusi menjadi organisasi keagamaan.

Katanya "Masalah keagamaan bukanlah menjadi ranah kerja GAFATAR. Urusan agama kita serahkan kepada ahlinya dan pribadi masing-masing,".

TUDINGAN ALIRAN SESAT

Gafatar dituding sebagai perpanjangan dari sekte Al-Qiyadah al Islamiyah, Komunitas Millah Abraham (Komar), pimpinan nabi palsu Ahmad Mushaddeq sejak awal kemunculannya. Walhasil, deklarasi Gafatar pada 2012 di sejumlah wilayah ditentang warga setempat, seperti di Kota Solo, Yogyakarta dan Gowa, Sulawesi Selatan.

Ketua Dewan Pimpinan Daerah (DPD) Gafatar Jawa Tengah, HS Cakraningrat, mengatakan organisasinya bergerak di bidang sosial, budaya dan ilmiah.

"Kami dituding berafiliasi dengan aliran sesat, itu tidak benar. Dulu kami pernah disusupi, tapi sudah dilakukan pembersihan. Kami ini Ormas yang bergerak melestarikan budaya Indonesia," katanya.

Gafatar terus berkembang, tetapi penolakan dari warga pun bermunculan. Pada Rabu (7/1/2015), puluhan warga Krueng Barona Jaya, Aceh Besar bersama polisi menggerebek Kantor Gafatar yang baru sebulan dibuka di Desa Lamgapang.

Majelis Permusyawaratan Ulama (MPU) Provinsi Aceh telah mengeluarkan fatwa bahwa Gafatar beraliran sesat. Pengurus Gerakan Fajar Nusantara Aceh diadili di Pengadilan Negeri Banda Aceh dengan tuduhan menyebarkan aliran sesat.

Di beberapa daerah, Gafatar pun divonis sebagai aliran sesat. MUI Maluku Utara menghentikan seluruh kegiatan Gafatar sejak 27 Maret 2015. Organisasi yang terdaftar di Pemerintah Provinsi Maluku Utara pada 2012 itu dianggap mengajarkan berbagai aliran yang bertentangan dengan nilai Islam, di antaranya melarang orang menunaikan salat, zakat, dan puasa.

Majelis Ulama Indonesia (MUI) masih mengkaji fatwa tentang Gafatar meski beberapa daerah sudah menyebutnya aliran sesat.

"Nanti kita rumuskan bentuk fatwanya. Saat ini sedang mengumpulkan data dan observasi lapangan. Jadi saya belum bisa mengatakan bahwa seluruh Gafatar adalah pecahan Al Qiyadah Al Islamiah," kata Ketua Komisi Dakwah dan Pengembangan Masyarakat MUI, KH Cholil Nafis dikutip Detik.com.

KAITAN DENGAN NII DAN ORGANISASI ILEGAL

Pengamat teroris, Al Chaidar mengatakan, Gafatar merupakan hasil dari metamorfosa Milah Abraham yang dipimpin oleh Ahmad Mussadeq, lalu berkembang lagi menjadi NII atau lebih dikenal dengan KW9 hingga terbentuklah Gafatar.

Keterkaitan dengan NII inilah yang menyebabkan izin dari Kesbangpol Kementerian Dalam Negeri tak kunjung keluar. Dilansir Detik.com, Gafatar pernah mendaftar melalui surat no 01/Setjend/dpp/x/2011 tanggal 2 November 2011.

"Tapi ditolak karena pertimbangan diidentifikasi terkait dengan gerakan NII," kata Dirjen Politik dan Pemerintahan Umum, Kemendagri, Mayjen (Purn) Soedarmo.

Soedarmo menjelaskan, berdasarkan saran dari berbagai kementerian dan lembaga, termasuk BIN, memang ada rekomendasi untuk menolak Gafatar dijadikan sebagai organisasi resmi yang terdaftar. Oleh karena itu, hingga saat ini Gafatar merupakan organisasi ilegal.

POLA PEREKRUTAN

Gafatar disebut-sebut mengintensifkan perekrutan terhadap mantan aktivis keagamaan, khususnya anak muda dengan latar belakang profesi. "Itu yang berhasil kami deteksi. Kami akan telusuri lebih jauh siapa sasaran rekruitmen Gafatar," kata Kepala Divisi Humas Mabes Polri, Irjen Anton Charliyan.

Disebutkan Ketua Komisi Dakwah dan Pengembangan Masyarakat MUI, Cholil Nafis, Gafatar juga menyasar orang berpendidikan tinggi yang tertarik dengan agama tapi tidak mempunyai dasar pengetahuan yang mencukupi.

"Gerakan-gerakan semacam ini kan sasarannya para kaum-kaum eksekutif yang tertarik belajar agama, tapi mereka tidak mempunyai dasar pengetahuan yang cukup," kata Cholil melalui Detik.com.

Mantan pengikut Negara Islam Indonesia (NII), Ken Setiawan melalui Viva.co.id, mengatakan Gafatar dalam basis gerakannya tak jauh berbeda dengan NII.

Lembaga ini menanamkan simpatik kepada warga lewat beragam kegiatan positif seperti donor darah, pelatihan atau bimbingan belajar gratis.

Ken mengatakan propaganda berupa ketidakadilan yang diterima warga negara, menjadi rumus ampuh untuk merekrut anggota khususnya para generasi muda.

BAGAIMANA KIPRAH GAFATAR DI MAROS ?

GAFATAR ternyata sudah eksis di Maros sejak tahun 2011 lalu. Bahkan, Gafatar juga sudah terdaftar di Kesbangpol Maros pada tahun 2011. Informasi ini berdasarkan atas kinerja dari tim Intelijen Kejari Maros. Dari sini terlihat, ternyata Gafatar di Maros telah eksis terlebih dahulu di Maros sebelum di deklarasikan secara Nasional pada tahun 2012.

Kepala Kejaksaan Negeri (Kejari) Maros, Muh Farhan mengatakan Gafatar mempengaruhi warga dengan cara melakukan bakti sosial atau kegiatan sosial seperti membersihkan pemukiman dan masjid. Saat membersihkan masjid, mereka pun mempengaruhi warga dengan paham radikalisme.

Warga yang tergiur dengan cerita- cerita pimpinan Gafatar pasti akan bergabung. Hal itu disebabkan, paham masyarakat sangat dangkal terkait aliran radikalisme.

Karena itu, Farhan meminta agar Kepolisian, TNI, pemerintah daerah, ormas, serta masyarakat harus mengantisipasi berkembangnya Gafatar di Maros.

Eksistensi GAFATAR di Maros sejak tahun 2011 dibenarkan Kapolres Maros AKBP Lafri Prasetyono. Menurutnya, Kelompok dengan paham menyimpang ini membungkus gerakan dengan aksi sosial, pertanian hingga naik ke gunung membagikan sembako.

Anggota PMI Maros, Suryadi Ningrat dikonfirmasi BSFM juga membenarkan Gafatar di Maros sudah lama eksist. Bahkan mereka pernah melakukan Audience dan kunjungan silaturrahmi hingga aksi Donor Darah.

Suryadi mengaku, saat itu tidak ada tanda-tanda mencurigakan terkait pemahaman tertentu dari mereka dan ibarat ormas lainnya yang murni melakukan aksi sosial. Sehingga beberapa relawan PMI termasuk dirinya sempat berminat untuk bergabung. Beruntung niat tersebut tidak kesampaian sampai sekarang.

Sejak dinyatakan sebagai organisasi terlarang, kelompok ini kemudian langsung menghilang dari publik seiring menghilangnya beberapa warga Maros yang akhirnya didideteksi berada di perkumpulan organisasi Gafatar di Desa Karya Jaya Kecamatan Samboja Kabupaten Kutai yang sabtu (23/1/2016) hari ini dipulangkan bersama para pengikut Gafatar dari beberapa daerah lainnya. (bsfm news department)
 
Copyright © 2014 107,3 Maros FM, Spirit Butta Salewangang. Designed by Radio Butta Salewangang (BS FM).